Smart Mom

be smart, be wise..

Cupcake Vanila May 14, 2016

Filed under: keluarga,resep,tips — smartmom @ 5:54 am
Tags: , ,

image

Sejak beberapa hari lalu Damai minta dibuatkan cupcake vanila yang dipanggang seperti yang saya buat beberapa minggu lalu. Sayangnya, saat itu saya membuatnya cemplang cemplung tanpa takaran yang jelas, jadi sudah tidak ingat persis takaran bahannya.

Siang ini saya buat yang kira-kira mirip, dengan bahan yang ada di rumah. Hasilnya di luar bayangan, lembut sekali. Mungkin karena saya mencampurkan air lemon pada susu cair, seperti membuat buttermilk. Saya tidak menggunakan baking powder maupun soda kue, dan hasilnya tetap mengembang dan lembut.
Jenis kue ini adalah buttercake, jadi mentega atau margarin dikocok bersama gula hingga lembut dan pucat baru dimasukkan bahan lainnya. Satu hal yang saya lupa adalah garam. Untuk cake yang tidak menggunaksn margarin atau salted butter, saya selalu menambahkan seujung sendok teh garam halus untuk menyeimbangkan rasa manisnya. Biar nggak cemplang kalau saya bilang. Tadi saya pakai full unsalted butter, dan lupa pakai garam. Untung rasanya tetap enak:)

Saya share resep kue ini ya..

Cupcake Vanila

Bahan:

125 gr mentega ( kalau pakai unsalted semua, beri sejumput garam. Bisa margarin juga kok)
175 gr gula halus
2 butir telur
175 gr terigu kunci
25 gr maizena
150 gr susu cair+1 sdm air lemon/jeruk nipis, dibuat sebelum mengocok adonan, jd didiamkan sebentar selama mengocok
1/2 sdt pasta vanila

Cara membuat:
1. Kocok mentega, gula dan vanila hingga lembut dan pucat.
2. Masukkan telur satu persatu, kocok hingga rata.
3. Turunkan kecepatan mikser hingga paling rendah. Masukkan terigu dan maizena yang sudah diayak sebelumnya, bergantian dengan susu, kocok atau aduk rata.
4. Tuang ke dalam loyang yang sudah diberi cup kertas. Seberapa nuangnya? Biasanya saya sisakan sekitar kurang dr 1 cm dr pinggir kertas.
5. Panggang selama kurang lebih 25 menit di oven yang sudah dipanaskan sampai 175 ℃

Untuk variasi bisa campurkan coklat cip atau mesis dalam adonan. Supaya tidak tenggelam, beri taburan tepung dulu di bahan campuran, aduk-aduk rata, baru campurkan ke adonan

Selamat mencoba dan share hasilnya 🙂

Advertisements
 

Keluar Dari Zona Nyaman October 14, 2017

Filed under: Refleksi — smartmom @ 9:30 am

Masing2 orang punya zona nyaman sendiri, begitu pun saya. Sehari2 bikin kue pesanan, kalau capek atau bosan tinggal libur, berapa uang yang mau dihasilkan tergantung seberapa besar mau usaha. Semua yang sudah berjalan dinikmati dengan rasa syukur.

Suatu hari, suami mengangkat isu merantau ke luar negeri. Seketika saya excited membayangkan Damai mencicipi sekolah macam di buku2 cerita yang pernah saya baca. Lalu bergulirlah ide merantau ini menjadi rangkaian pemikiran dan diskusi panjang, ke mana, gimana, dan kapan.

Kami pun berhitung usia, tabungan, menimbang goal dan risiko. Ini menjadi perenungan panjang yang bahkan ketika akhirnya proses berlangsung pun, perenungan masih berlanjut. Saya nggak tulis prosesnya ya, tapi kalau kita ketemu, saya akan senang hati berbagi cerita.

Singkat kata, niat kami bulat untuk mencari pengalaman di luar Indonesia, lalu diputuskanlah Selandia Baru sebagai negara tujuan.

Dalam proses mewujudkan rencana itu, beberapa hambatan menghadang, salah satu yang terbesar adalah ibu saya masuk RS karena ada infeksi berat di tangan dan harus 2x operasi. Puji Tuhan kondisi sudah jauh lebih baik. Lalu bagaimana respon orang tua atas keputusan kami? Bapak dan ibu saya sangat mendukung rencana kami dan berharap jangan memundurkan rencana. Saya berserah pada penyelenggaraan Tuhan dan menghargai semangat kedua orang tua saya yang mendukung kami. Jadi, rencana lanjut.

Lalu saya dihadapkan pada konsekwensi pilihan. Dari hasil diskusi dan berbagai pertimbangan, saya sekolah sementara suami kerja. Saya harus mengikuti tes masuk kampus yang dituju yaitu tes bahasa Inggris. Takut? Iya. Tapi ujungnya saya diterima kampus dan bisa urus visa.

Sungguh terasa diobrak-abrik lho perasaan dan kehidupan saya. Mana pernah mikir bakal ujian bahasa inggis atau tes masuk sekolah. Belum lagi ‘dipaksa’ belajar nyetir karena harus siap dgn kondisi nyetir sendiri di sana. Saya sempat berminggu2 gelisah tiap tidur malam karena khawatir macam2. Khawatir tidak lolos tes, khawatir gagal bawa keluarga saya ke NZ.

Setelah ujian masuk beres, lebih lega, sisa deg2an apa visa akan approved. Visa suami sempat tertunda tapi akhirnya disetujui. Fyuuh! Lega. Dan selanjutnya siap untuk menjalani rutinitas baru dan zona nyaman yang lebih diobrak abrik lagi.

 

Resign July 26, 2017

Filed under: Refleksi — smartmom @ 10:40 am

Note:

Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu tapi nggak berani publish karena masih ngawang2 sangat, hehehe

Tahun 2009 adalah tahun terakhir saya menjadi karyawan sebuah perusahaan. Sejak 2005 hingga pertengahan 2009, perusahaan menjadi tempat belajar saya. Saat masih bekerja di kantor, saya menekuni pekerjaan baru sebagai tukang kue dekoratif. Bermodal kemauan, hubungan baik dengan banyak orang, jalinan pertemanan di media sosial, Dapur Kenari, mainan baru saya yang saya mulai sejak 2007, tumbuh. Dapur Kenari memberikan banyak sekali pengalaman dan tentu menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga kami. Hingga suatu hari, saya dan suami berpikir untuk melangkah ke jenjang lain dalam perjalanan hidup kami. Melakukan sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan, dan sebagai konsekwensinya, dapur saya harus disimpan dulu. Pematangan niat ini butuh waktu lama, hingga 1,5 tahun, seiring dengan segala persiapan untuk rencana kami. Dan akhirnya sampai juga saya di titik baper. Saat alat2 dapur dibereskan untuk disimpan atau dibagi-bagi, lalu ada pelanggan yang berniat order kue. Mirip rasanya seperti waktu akan resign dari kantor. Langkah kaki mesti dimantapkan agar tak ada kesempatan ragu. Masih menunggu di depan, hal-hal baru yang mesti saya jalani. Ceritanya akan menyusul ya. Menikmati baper dulu sekarang.

 

Membuat Tempe July 20, 2016

Filed under: damai,feeding,healthy,resep — smartmom @ 5:55 pm

Pada tanggal 15 juli lalu, Damai berkesempatan belajar membuat tempe bersama teman-teman dalam workshop tempe yang diadakan oleh SHINE.  Selain mendapat pengetahuan dan keterampilan baru cara membuat tempe, Damai pulang membawa tempe hasil dari workshop dan satu paket berisi kedelai dan ragi untuk membuat tempe.
image

Sampai di rumah, Damai langsung merendam kedelai dengan air minum galon yang ada di rumah. Mengapa bukan air kran? Karena kami pakai air PAM yang mengandung klorin. Bahan tambahan dalam air bisa menggagalkan pembuatan tempe. Jadi, gak mau ambil resiko, sayang-sayang kedelainya. Sebaiknya rendam kedelai dalam air sumur atau air minum kemasan. Tapi pengen nyoba deh besok pakai air pam, siapa tahu jadi.

image

Kedelai direndam selama 24 jam, jadi baru besoknya tempe bisa diproses.

Setelah 24 jam kedelai akan menjadi lebih besar dan lunak. Ini waktunya untuk mengupas kulit ari kedelai. Yang pernah saya lihat, pembuat tempe dekat rumah dulu, kedelai diinjak-injak sampai semua kulit terlepas. Kedelai dikupas hingga semua kulit terlepas lalu saring.

image

image

Setelah bersih, kedelai dikukus 30 menit. Setelah matang dan empuk, angkat dan aduk-aduk hingga dingin.

Setelah dingin, beri ragi dan aduk rata. Untuk 250 gr, ragi yang diperlukan hanya seujung sendok makan. Setelah semua merata, masukkan dalam plastik atau daun pembungkus. Bungkus rapat dan tusuk-tusuk untuk kemasan plastik. Kemasan daun sudah berpori sehingga tidak perlu ditusuk-tusuk. Letakkan Dalam wadah yang bolong-bolong agar udara bisa masuk. Simpan di suhu ruang dan tunggu sampai esok hari, akan muncul putih-putih jamur. Setelah merata dan padat, artinya tempe sudah jadi dan siap makan. Boleh langsung dimakan karena kedelai sudah matang dikukus dan diolah dengan bersih.

image

image

Informasi berharga yang saya dapat dari workshop ini adalah:
1. Ragi tempe didapat dari bagian belakang daun jati atau daun waru. Karena jumlahnya sedikit, bisa diperbanyak dengan menambahkan kedelai kukus yang sudah dingin pada daun waru atau jati, dibiarkan muncul jamur tempe hingga berwarna hitam, keringkan di panas matahari baru blender kering hingga halus. Rahi bisa disimpan dalam wadah tertutup rapat. Jadi sebenarnya kita bisa perbanyak tempe dengan menggunakan ragi yang dibuat dari tempe yang kita beli, seperti yogurt.

image

2. Tempe tidak akan jadi bila ada bahan asing seperti pengawet, pemutih dll, berbeda dengan tahu yang tetap bisa jadi walau ditambah bahan pengawet atau pemutih. Tapi saya tetap doyan tahu, hahaha…
3. Tempe yang telalu banyak ragi akan mudah rusak dan tidak tahan lama.

Sementara itu dulu ya. Yang jelas Damai senang sekali sehingga setiap hari pasti membuat tempe selama ada stok kedelai. Sekarang peernya adalah cari penjual kedelai non GMO(genetically modified organism), ragi beli di bu Ines aja deh 🙂 Oiya, tau cara bikin tempe ini misal berharga, siapa tahu suatu hati tinggal di daerah yang susah dapet tempe murah.

 

Menginap di Shakuntala, Kawasan Pantai Gunungkidul July 17, 2016

Filed under: keluarga,trip — smartmom @ 12:30 am
Tags: , , ,

Mudik kali ini keluarga mbah Harto memutuskan untuk menginap di luar rumah. Dengan aneka pertimbangan maka diputuskan untuk menyewa pondok Shakuntala dekat Pantai Sadranan.

image

image

image

Ketiga foto di atas saya ambil dari FB Shakuntala.

Sekitar jam 15.30 kami sampai di Shakuntala. Kami disambut dengan teh hangat, dan gorengan. Ada beberapa sih, tapi saya lupa. Ini nih efeknya kalau ceritanya kelamaan. Sambil ngemil kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menempati 4 kamar. Kebetulan kami bertiga di satu kamar bersama dengan Leni, istri dari sepupunya Mr Fredy. Ngg… sepertinya saya mau balik pakai Mr. Fredy buat nyebut papanya Damai di sini, hahaha…
Unpack sebentar, lalu kami main ke pantai. Ada 2 pantai yg terdekat dari pondok, hanya jalan kaki sekitar 30-50 m, Slili dan Sadranan, yang sayangnya saya tidak ke Slili. Menyesaaal…
Cerita pantai terpisah ya, sekarang cerit pondok aja.

Pondok Shakuntala terletak dekat pantai dalam posisi yang membukit, alias lebih tinggi, jadi puji Tuhan, waktu Rob kemarin aman saja, tidak terhempas ombak. Tentu saja, debur ombak sangat terdengar, terutama di malam hari.

image

Bangunan terbuat dari gedek bambu, bak mandi dari bahan tembikar, membuat pondok ini terkesan alami. Setiap kamar dinamakan dan ditandai dengan bentuk wayang. Sayangnya tidak ada tulisannya, sehingga saya harus bertanya dulu sama Mr. Fredy.

image

Masakan yang disediakan cukup enak, walaupun kalau menurut lidah saya agak kemanisan. Ya, lidah saya memang nggak terlalu cocok dengan masakan Jawa yang manis-manis, tapi kalau pria jawa yang manis saya suka, hahaha…

Berikut adalah foto dalam pondok, tempat istirahat kami.

image

image

Mbak Ning, pemilik pondok stand by di pondok selama kami menginap, ibantu dengan beberapa karyawannya yang siap membantu kami bila butuh apa-apa.

Selain kamar, pondok makan,ada juga aula untuk aktivitas bersama.

image

Secara keseluruhan, tempat ini nyaman untuk beristirahat. Hanya, kalau yang menginap lansia dan susah turun naik tangga mungkin agak sedikit bermasalah, karena beberapa pondok mesti turun naik tangga. Info dulu aja sebelumnya ke mbak Ning supaya bs dapat kamar yang cukup nyaman. Mbak Ning bisa dikontak di FB Shakuntala.

 

Menikmati Pantai di Gunungkidul July 16, 2016

Filed under: damai,keluarga,mudik,trip — smartmom @ 9:56 pm
Tags: , , ,

Setelah tiga tahun lalu menikmati pantai Sepanjang dan Drini, tahun ini kami mencoba Sadranan dan Indrayanti. Kalau tidak salah ada 169 pantai lho di Gunungkidul, jadi lama pasti habisnya kalau mau cicipi semua.

Saat kami datang, kondisi pantai setelah Rob sudah cukup tenang. Ombak besar tapi mereda di pantai jadi tidak berbahaya, tapi juga tidak cukup aman untuk snorkeling. Ini yang disayangkan, karena sudah berharap dari rumah, hehe..

image

Hamparan pasir di pantai Sadranan cukup luas jadi puas bermain air, menabrak ombak dan berlarian di pasir dan air tanpa takut kena karang. Berbeda dengan di Indrayanti yang hamparan pasirnya pendek, dan langsung nampak karang di ujung batas pasir dan air.

image

image

Tuh.. kalau di Sadranan bisa puas guling-gulingan di air.

image

Karena kondisi beberapa hari terakhir terjadi ombak besar(rob), banyak pondok yang rusak di sekitar pantai, jadi warung dan tempat penyewaan alat snorkling tutup. Pantai pun masih sepi. Cuma keluarga kami yang main di situ.

Di Indrayanti kami foto-foto aja, nggak main air lagi karena kondisi pantainya yang kurang nyaman untuk bermain. Tidak landai dan terlalu dekat karang.

image

image

image

Masih banyak pantai di Gunungkidul yang harus didatangi. Siap berkunjung di lain waktu.

 

Menikmati Pantai di Gunungkidul

Filed under: damai,keluarga,mudik,trip — smartmom @ 9:43 pm
Tags: , , ,

Setelah tiga tahun lalu menikmati pantai Sepanjang dan Drini, tahun ini kami mencoba Sadranan dan Indrayanti. Kalau tidak salah ada 169 pantai lho di Gunungkidul, jadi lama pasti habisnya kalau mau cicipi semua.

Saat kami datang, kondisi pantai setelah Rob sudah cukup tenang. Ombak besar tapi mereda di pantai jadi tidak berbahaya, tapi juga tidak cukup aman untuk snorkeling. Ini yang disayangkan, karena sudah berharap dari rumah, hehe..

image

Hamparan pasir di pantai Sadranan cukup luas jadi puas bermain air, menabrak ombak dan berlarian di pasir dan air tanpa takut kena karang. Berbeda dengan di Indrayanti yang hamparan pasirnya pendek, dan langsung nampak karang di ujung batas pasir dan air.

image

image

Sementara kalau di Sadranan bisa puas guling-gulingan di air.

image

Karena kondisi beberapa hari terakhir terjadi ombak besar(rob), banyak pondok yang rusak di sekitar pantai, hadi warung dan tempat penyewaan alat snorkling tutup. Pantai pun masih sepi. Cuma keluarga kami yang main di situ.

Masih banyak pantai di Gunungkidul yang harus didatangi. Siap berkunjung di lain waktu.

 

Pesan Tiket Kereta Via Web dan Aplikasi June 12, 2016

Filed under: keluarga,trip — smartmom @ 8:11 pm
Tags:

image

Pergi di waktu yang relatif sepi membuat saya bisa memilih tiket dengan lebih leluasa. Kendati begitu, saya sempat gagal mendapat tiket yang saya mau, terkait soal harga.
Untuk keberangkatan kami memutuskan naik kereta ekonomi yaitu kereta progo yang berangkat pukul 22.30 dari Stasiun Pasar Senen pada tanggal 12 Juni, tiket sudah kami beli sejak bulan April. Untuk pulang, kami berencana menumpang Taksaka malam. Kebetulan saat membeli tiket secara online saya masih menemukan 3 kursi berderet satu-satunya dengan harga 260 ribu. Langsung saya pesan. Saat akan menyelesaikan proses order saya melihat nama papa Damai tertulis Gredy. Saya pun langsung melakukan koreksi yang artinya saya mulai lagi proses pendaftaran dari awal. Sedihnya, saat itu saya daftar di web dan bukan di aplikasi KAI access sehingga nomor KTP harus ditulis ulang semua. Saat halaman persetujuan order muncul, betapa kagetnya saya karena kursi kami bertiga terpisah dan saling berjauhan. Wow… saya cuma back sebentar lho… susah kehilangan kursi. Bukan rejeki kami. Melihat harga Taksaka lainnya saya memutuskan untuk kembali memesan kereta progo. Lumayan selisihnya untuk beli oleh-oleh yaa..

Jadi, saran saya, manfaatkan aplikasi untuk pesan tiket kereta, karena nggak perlu repot memasukkan lagi no ktp, menghindari kehilangan kursi seperti saya 🙂