Wujud Rasa Syukur

Ini video dan foto2 bulan Maret 2018 lalu saat saya ikut kegiatan penggalangan dana untuk blood cancer dan leukimia. Mikirnya cuma sebentar, begitu dapat ijin suami untuk cukur saya langsung email. Saat itu saya memang belum punya banyak kenalan yang bisa dimintain sumbangan tapi saya berharap kenekatam saya yg ditonton orang banyak di jalan utama Auckland CBD bikin orang2 yang lihat berani melakukan juga dan hopefully mereka punya network yg lebih luas.

Advertisements

Throw Back: Kapan anak boleh makan nasi

Saya bukan penulis blog yang rajin. Kontennya pun nggak spektakuler. Saya menulis tergantung rasa hati saya. Pun saya jarang cek stats, sampai beberapa minggu terakhir. Saya jadi rutin cek karena tertarik oleh sesuatu: postingan yang paling banyak viewnya, yaitu Kapan Anak Boleh Mulai Makan Nasi.

Posting itu dibulat tahun 2010, waktu saya masih aktif mengencourage para ibu untuk pemberian makanan bayi homemade. Masa-masa masih rajin ngetwit dan nulis blog. Sekarang udah jarang nulis soal makanan bayi balita tapi tetap berusaha update ilmu, banyak baca dan tetap bersedia diajak diskusi soal ini.

Jadi kapan sebaiknya bayi mulai makan nasi? Jawaban saya teap sama sih, tergantung kesiapan bayi. Intinya mulai dengan makanan padat super lembut di 6 bulan lalu ditambah perlahan kekasarannya hingga di 12 bulan bayi sudah bisa makan table food sama seperti anggota keluarga lain

Oh iya, ada cerita sedikit soal keponakan saya yang sekarang ini sedang MPASI. Suatu hari, mamanya WA saya dan cerita kalau si baby lagi males-malesan makan. Waktu itu sekitar 8 mau ke 9 bulan umurnya. Dari pengalaman Damai dan anak2 teman saya, ada aja dong pasti masa2 begitu. Sebabnya bisa beragam, misalnya lagi nggak sehat, nggak suka makanannya atau sekedar bosan. Bisa bosan sama aroma, suasana, rasa ataupun tekstur. Saya coba cek teksturnya, liat di foto IG aja sih, makl kan kami berjauhan, lalu mengusulkan, coba deh ubah teksturnya, pakai nasi lembek yang sedikit dilumat, jd meningkat agak kasar sesikit dari sebelumnya. Eh bener aja, mau lho dia… Jadi, jangan keburu mikir anaknya gak doyan makan trus panik ya… Pasti akan ada celah kok untuk tetep encourage dia mau makan. Nanti makin besar juga seleranya bisa berubah atau berkembang. Trust me, you will miss those moments in the future. I do miss baby-feeding time. I wish i could borrow a baby here. Happy feeding!

Am I in the comfort zone?

Browns Bay

I once posted about comfort zone and it will always be something to relate in the future.

When you feel too comfortable in certain conditions, you tend to enjoy and be satisfied easily. For me, it is actually my bad, I’d love to stay as long as possible and won’t do something new. I would stick in that condition until I get bored and then realise that i need to do something better, fresher, bigger and more useful. And then i would feel uncomfortable.

For me, it is important not to come to that phase. When I feel too comfortable, I try to find something new to do. It doesn’t need to be big but should be beneficial not only for me but also for anyone else, could be family, friends or community.

I think I am not yet in that zone now but why do I feel like I am too lazy. So, which phase am I staying in now? I am reflecting.

Reflecting through inside my heart is the way I express my gratefulness of a great life given to me.

Please do so together with me if you have the same thoughts.

Beauty Catcher

Duder Regional Park, Auckland

Yeah, started from yesterday, i changed my blog name. No specific reason, just wanna make it fresh and actual as i might not write much about baby and feeding. I will keep in encouraging people to support breastfeeding, eating homemade haealthy foods and having enough daily exercise. And you can always asking me to discuss about those things as i will keep reading and updating my knowledge.

The beauty in Beauty Catcher is not just about the beautiful scenery that i have been enjoying the last 11 months, it’s also about the beauty of life, friendship, self actualisation and dreams.

Let’s catch our beautiful dreams and be happy in its journey.

It has been a wonderful journey

37915434_1914642465262320_6320432087056777216_o

2 November 2017, our first meeting, in our orientation day. It was clearly an international class. We introduced names, countries and backgrounds. It was such a memorable moment for me as it was the first time I should speak English in front of so many people. Yes, I was so nervous back then.

We are post graduate diploma students and MBA students. In the first day of our orientation, we were divided into groups of 3. I was in the group with a beautiful girl from Russia, named Nadia and Nitesh, from India. We named our group as AVENGERS. That was the very first time I interacted with people from different countries, had to communicate in English and I got more nervous.

Then I faced the reality, that I have to study new subjects, interact with new people from different countries, and the most-scary thing for me at that time: writing a PAPER. I like to write but I have never written paper in English. (I will write in another post for the “learning English story” of mine)

172-4

Being friends with people from many countries at the same time taught me a lot of things. I learnt a lot about cultural relativism, culture as the way of life, stereotype, noise in communication, how a culture constructs people’s behaviour, etc. It was like I jumped into another real knowledge. And… it was so fun!

Let me recall my first memories, the names that I can remember at the first days we met. Before Nitesh and Nadia, there were Nurma and Indri, from Indonesia that became friends. After Nitesh and Nadia, I met Mychael, also from Indonesia. Then I remember a boy named Thang, from Vietnam, and Maria from Columbia. The first names that I can clearly memorised.

40784900_10155756729816658_6129460274660376576_o

Then days were running so fast. We studied together in the class, worked on the assignments and faced the exams together. Nadia created a whatsapp group for us, ACADEMIC HEROES, our place to share the informations, jokes and also our burdens especially when we have exams and assignments. This group helps us to get along well. Our lunch times were special, as those were the moments for us to know each other. Gradually, I memorised my friends’ names, and got to know each other more.

And now, at the 11th month of our journey, one by one of us finished the modules. And the pieces of memories pop-up in my mind. The times we were together, our lunch times, our first exam, first assignment, our summer days, negotiation class, crazy March, group assignments, our cold winter days and so many memorable times together. For me, there was a very special moment, my birthday, when they threw me a surprise and i was feeling overwhelmed.

I am glad that I have been in this journey with all lovely friends. I can say that I had great times and feel grateful that I have been surrounded by their love and care and I feel so blessed.

For this lovely journey, for giving me such beautiful memories, lovely friendships and great experiences, I praise The Lord.

172-3

40 Tahun

Sampai juga ke usia kepala 4. Puji Tuhan, semangat dan stamina masih di bawah usia itu😁. Kalau kata temen saya, “Sisil, it’s a lot, but you look so young!” Jangan protes ya, ini saya tulis buat nyenengin diri sendiri hahaha…. Dibilang gitu kan bikin seneng ya. Mungkin karena emang saya masih banyak pecicilan kemana-mana.

Postingan ini kelewat hampir 2 minggu karena tanggal ultahnya tanggal 3, tapi saya merasa perlu menyimpannya di sini, cerita manis yang saya alami di bulan Juni yang dingin tapi penuh kehangatan.

Ulang tahun spesial karena jauh dari ibu yang biasa bikinin nasi kuning lengkap. Spesial karena kejutan yang beruntun dari suami, anak dan teman2.

Pagi2 udah dibikinin nasi kuning sama papanya Damai.

Trus dianter ke kampus, tumben2an Damai ikut, ternyata ada hadiah kejutan di mobil😍.

Agak telat masuk kelas dan di jam lunch ada kejutan ini. Nggak perlu cerita banyak untuk tahu betapa bahagianya saya kan ya.

Saya bersyukur di usia ini diberi kesempatan mengucap syukur jauh lebih banyak. Terus berusaha jadi pribadi yang lebih matang. Dikelilingi orang2 yang mendukung dan sayang sama saya itu karunia luar biasa.

Terima kasih papa, Damai dan teman2 tersayang.

Menjelajah Auckland

Cerita ini seharusnya ditulis 4 bulan yang lalu saat saya pertama kali memutuskan menjelajah Auckland dengan berlari. Tapi akhirnya baru sempat sekarang. Nggak perlu ditulis alasannya karena bakal kebanyakan alasan, hahaha…

Auckland ini sering disebut sail city, banyak perahu layar. Kotanya dikelilingi laut, jadi ke sudut manapun akan ketemu laut dan pantai. Saya pun berpikir, ingin sekali bisa jalan-jalan, setidaknya ke berbagai penjuru Auckland City. Saat keinginan itu muncul, Damai mulai masuk sekolah, jadwal kerja suami, Damai dan saya nggak klop jadilah keinginan itu tersimpan dalam-dalam. Suatu hari saya dapat info soal virtual race, lomba lari virtual yang bisa dilakukan di mana aja, cuma modal tracker trus disubmit via aplikasi. BMW virtual race, multiple run yang artinya bisa lari sedikit2, minimal 1 km trus disubmit. Durasinya kurang lebih sebulan. Jaraknya ada 3 kategori, 125, 225(lupa yang ini bener ato nggak) sama 350. Saya kan amatir jadi pilih yang 125 aja. Tapi saya punya target untuk selesai cepet, 20 hari, supaya medalinya bisa dibawain ke Auckland sama Dita, temen saya yang mau liburan.

Berlarilah saya ke segala penjuru Auckland City. Menikmati keindahan dan kesegaran sambil berkunjung ke tempat tinggal atau tempat kerja teman2 saya.

Medalinya keren

Saya senang bisa berkunjung ke tempat teman2, menjalin relasi lebih dekat dengan mereka dan keluarganya. Berikut ini sebagian foto2 saat saya lari menjumpai mereka.

Lari-larian ini sungguh memberi kesenangan dan kesegaran yang lebih diantara rutinitas harian yang melelahkan.

Maria, teman asal Columbia
Aditya, teman asal India

Kiyan, putranya teman saya Nitesh, asal India
Sahil, teman Asal India
Maria, teman asal Belarusia
Saat hari hujan, saya berlari di dalam ruangan
Hasil akhir

Damai di Auckland

Saat memutuskan pindah ke sini, saya sempat berpikir, kira2 Damai akan stress nggak ya saat semua orang berbahasa inggris. Tapi kemudian saya menyadari kemampuan bahasa inggrisnya nggak buruk. Setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan teman2 sebayanya. Untuk urusan menulis biar nanti dia belajar di sekolah. Dan seperti yang sudah kami duga, anak2 itu cepat beradaptasi. Bahasa, teman, aktivitas, tugas2, masalah2 kecil yang muncul, semua mengalir dan mewarnai kehidupan masa pra remajanya. Saya sibuk dengan aktivitas saya sendiri, papanya juga, Damai tentu pun begitu. Kami hampie nggak pernah direpotkan urusan sekolah. Baju seragam yang yang cuma 1 stel dan dipakai terus setiap hari ya dicuci sendiri. Sarapan dan bekal juga dia bikin sendiri, terutama kalau saya harus tidur menjelang pagi karena tugas.

Lalu masih bisa seru2an sama2? Pasti. Damai dan papanya punya movie time, kami bertiga selalu nyempetin nyanyi bareng. Kalo jalan bareng emang jarang, waktunya suka nggak klop dan Damai suka nggak mau diajak pergi. Tp ke gereja hampir selalu bareng jalan bertiga, dan ini sangat menyenangkan. Kami macam 3 sahabat jalan bareng, bercanda dan tertawa. Berharga.