Beauty Catcher

Duder Regional Park, Auckland

Yeah, started from yesterday, i changed my blog name. No specific reason, just wanna make it fresh and actual as i might not write much about baby and feeding. I will keep in encouraging people to support breastfeeding, eating homemade haealthy foods and having enough daily exercise. And you can always asking me to discuss about those things as i will keep reading and updating my knowledge.

The beauty in Beauty Catcher is not just about the beautiful scenery that i have been enjoying the last 11 months, it’s also about the beauty of life, friendship, self actualisation and dreams.

Let’s catch our beautiful dreams and be happy in its journey.

Advertisements

It has been a wonderful journey

37915434_1914642465262320_6320432087056777216_o

2 November 2017, our first meeting, in our orientation day. It was clearly an international class. We introduced names, countries and backgrounds. It was such a memorable moment for me as it was the first time I should speak English in front of so many people. Yes, I was so nervous back then.

We are post graduate diploma students and MBA students. In the first day of our orientation, we were divided into groups of 3. I was in the group with a beautiful girl from Russia, named Nadia and Nitesh, from India. We named our group as AVENGERS. That was the very first time I interacted with people from different countries, had to communicate in English and I got more nervous.

Then I faced the reality, that I have to study new subjects, interact with new people from different countries, and the most-scary thing for me at that time: writing a PAPER. I like to write but I have never written paper in English. (I will write in another post for the “learning English story” of mine)

172-4

Being friends with people from many countries at the same time taught me a lot of things. I learnt a lot about cultural relativism, culture as the way of life, stereotype, noise in communication, how a culture constructs people’s behaviour, etc. It was like I jumped into another real knowledge. And… it was so fun!

Let me recall my first memories, the names that I can remember at the first days we met. Before Nitesh and Nadia, there were Nurma and Indri, from Indonesia that became friends. After Nitesh and Nadia, I met Mychael, also from Indonesia. Then I remember a boy named Thang, from Vietnam, and Maria from Columbia. The first names that I can clearly memorised.

40784900_10155756729816658_6129460274660376576_o

Then days were running so fast. We studied together in the class, worked on the assignments and faced the exams together. Nadia created a whatsapp group for us, ACADEMIC HEROES, our place to share the informations, jokes and also our burdens especially when we have exams and assignments. This group helps us to get along well. Our lunch times were special, as those were the moments for us to know each other. Gradually, I memorised my friends’ names, and got to know each other more.

And now, at the 11th month of our journey, one by one of us finished the modules. And the pieces of memories pop-up in my mind. The times we were together, our lunch times, our first exam, first assignment, our summer days, negotiation class, crazy March, group assignments, our cold winter days and so many memorable times together. For me, there was a very special moment, my birthday, when they threw me a surprise and i was feeling overwhelmed.

I am glad that I have been in this journey with all lovely friends. I can say that I had great times and feel grateful that I have been surrounded by their love and care and I feel so blessed.

For this lovely journey, for giving me such beautiful memories, lovely friendships and great experiences, I praise The Lord.

172-3

40 Tahun

Sampai juga ke usia kepala 4. Puji Tuhan, semangat dan stamina masih di bawah usia itu😁. Kalau kata temen saya, “Sisil, it’s a lot, but you look so young!” Jangan protes ya, ini saya tulis buat nyenengin diri sendiri hahaha…. Dibilang gitu kan bikin seneng ya. Mungkin karena emang saya masih banyak pecicilan kemana-mana.

Postingan ini kelewat hampir 2 minggu karena tanggal ultahnya tanggal 3, tapi saya merasa perlu menyimpannya di sini, cerita manis yang saya alami di bulan Juni yang dingin tapi penuh kehangatan.

Ulang tahun spesial karena jauh dari ibu yang biasa bikinin nasi kuning lengkap. Spesial karena kejutan yang beruntun dari suami, anak dan teman2.

Pagi2 udah dibikinin nasi kuning sama papanya Damai.

Trus dianter ke kampus, tumben2an Damai ikut, ternyata ada hadiah kejutan di mobil😍.

Agak telat masuk kelas dan di jam lunch ada kejutan ini. Nggak perlu cerita banyak untuk tahu betapa bahagianya saya kan ya.

Saya bersyukur di usia ini diberi kesempatan mengucap syukur jauh lebih banyak. Terus berusaha jadi pribadi yang lebih matang. Dikelilingi orang2 yang mendukung dan sayang sama saya itu karunia luar biasa.

Terima kasih papa, Damai dan teman2 tersayang.

Menjelajah Auckland

Cerita ini seharusnya ditulis 4 bulan yang lalu saat saya pertama kali memutuskan menjelajah Auckland dengan berlari. Tapi akhirnya baru sempat sekarang. Nggak perlu ditulis alasannya karena bakal kebanyakan alasan, hahaha…

Auckland ini sering disebut sail city, banyak perahu layar. Kotanya dikelilingi laut, jadi ke sudut manapun akan ketemu laut dan pantai. Saya pun berpikir, ingin sekali bisa jalan-jalan, setidaknya ke berbagai penjuru Auckland City. Saat keinginan itu muncul, Damai mulai masuk sekolah, jadwal kerja suami, Damai dan saya nggak klop jadilah keinginan itu tersimpan dalam-dalam. Suatu hari saya dapat info soal virtual race, lomba lari virtual yang bisa dilakukan di mana aja, cuma modal tracker trus disubmit via aplikasi. BMW virtual race, multiple run yang artinya bisa lari sedikit2, minimal 1 km trus disubmit. Durasinya kurang lebih sebulan. Jaraknya ada 3 kategori, 125, 225(lupa yang ini bener ato nggak) sama 350. Saya kan amatir jadi pilih yang 125 aja. Tapi saya punya target untuk selesai cepet, 20 hari, supaya medalinya bisa dibawain ke Auckland sama Dita, temen saya yang mau liburan.

Berlarilah saya ke segala penjuru Auckland City. Menikmati keindahan dan kesegaran sambil berkunjung ke tempat tinggal atau tempat kerja teman2 saya.

Medalinya keren

Saya senang bisa berkunjung ke tempat teman2, menjalin relasi lebih dekat dengan mereka dan keluarganya. Berikut ini sebagian foto2 saat saya lari menjumpai mereka.

Lari-larian ini sungguh memberi kesenangan dan kesegaran yang lebih diantara rutinitas harian yang melelahkan.

Maria, teman asal Columbia
Aditya, teman asal India

Kiyan, putranya teman saya Nitesh, asal India
Sahil, teman Asal India
Maria, teman asal Belarusia
Saat hari hujan, saya berlari di dalam ruangan
Hasil akhir

Damai di Auckland

Saat memutuskan pindah ke sini, saya sempat berpikir, kira2 Damai akan stress nggak ya saat semua orang berbahasa inggris. Tapi kemudian saya menyadari kemampuan bahasa inggrisnya nggak buruk. Setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan teman2 sebayanya. Untuk urusan menulis biar nanti dia belajar di sekolah. Dan seperti yang sudah kami duga, anak2 itu cepat beradaptasi. Bahasa, teman, aktivitas, tugas2, masalah2 kecil yang muncul, semua mengalir dan mewarnai kehidupan masa pra remajanya. Saya sibuk dengan aktivitas saya sendiri, papanya juga, Damai tentu pun begitu. Kami hampie nggak pernah direpotkan urusan sekolah. Baju seragam yang yang cuma 1 stel dan dipakai terus setiap hari ya dicuci sendiri. Sarapan dan bekal juga dia bikin sendiri, terutama kalau saya harus tidur menjelang pagi karena tugas.

Lalu masih bisa seru2an sama2? Pasti. Damai dan papanya punya movie time, kami bertiga selalu nyempetin nyanyi bareng. Kalo jalan bareng emang jarang, waktunya suka nggak klop dan Damai suka nggak mau diajak pergi. Tp ke gereja hampir selalu bareng jalan bertiga, dan inj sangat menyenangkan. Kami macam 3 sahabat jalan bareng, bercanda dan tertawa. Berharga.

Auckland City Library

Setelah lebih dari sebulan tinggal di Auckland, akhirnya masuk library juga. Padahal library atau perpustakaan ini ada di mana2 dan sitemnya terpadu. Jadi bs dicek dari website, misal buku yg dicari adanya di perpus umum yang jauh dr rumah, bs minta diambilin untuk diambil di perpus terdekat.

Daftar perpus dan pinjam buku gratis, yang bayar adalah pinjam video/film dan sebagian partitur musik. Selebihnya tak perlu bayar, bahkan untul menggunakan fasilitas komputer dengan bermacan-macam aplikasi yang biasanya perlu diunduh dengan membayar.

Pada kunjungan kedua, Damai nyoba pinjem buku sendiri. Saya sibuk dengan tugas kuliah, tau2 Damai bawa 4 buku. Dia bawa ke meja yang ada komputernya, scan, dan terima receipt. Punya waktu 28 hr untuk peminjaman. Bisa dikembalikan di perpus umum manapun di bawah nsungan Auckland council.

Sungguh pengslaman barunyang menyenangkan. Masuk library rasa mol😁

Kendaraan Umum di Auckland

Saat datang ke Auckland, kami naik taksi van dari bandara. Saat itu otaknya masih setelan kalkulator rupiah, jadi ngitung aja bawaannya. Kalo nggak salah sekitar $60, per NZD kira2 9700 rupiah. Sampai di airbnb langsung cek tarif uber ke kampus, jatuhnya sekitar $12-15 Gak mungkinlah ya rela bayar uber. Dari rumah yang kami sewa itu, kira2 3,7 km jaraknya ke kampus. Ah, sangguplah jalan asal jangan tiap hari. Jadi cari rumah yang jalannya nggak jauh2. Urusan cari rumah nanti ada cerita sendiri. Yang pasti urusan transportasi mesti jadi prioritas dulu karena kami belum berencana beli mobil. Jadi urutannya, cari rumah yang bs disewa permanen trus cari sekolah Damai. Mobil nyusul, tergantung dapet tempat parkir ato nggak. Dan bener, sampe sekarang belum beli mobil karena belum dapat tempat parkir. Ada yang deket, tarifnya $115 seminggu, gak rela deh.

Nah, untuk mempermudah dan mempermurah urusan transportasi, kami beli kartu yang namanya AT Hop. Dengan kartu ini, kami bisa naik kereta, bus ato ferri dengan tarif yang lebih murah. Kalau tanpa kartu $5,5, dengan kartu jadi $3,25. Nah, masing2 kartu harus didaftarkan di website dan untuk Damai otomatis dapat konsesi alias potongan harga, jadi $1,8 untuk jarak yang sama. Tarif ini beda2 tergantung zonanya. Yang tadi saya contohin itu zona 2. Kalau nggak salah dengan AT Hop zona 1 cuma $1,35. Oiya, saya juga dapat konsesi karena saya student. Jadi setelah daftar di website, saya datang ke customer service sambil nunjukin kartu mahasiswa. Setelah didaftarkan, kartu saya dan Damai, tiap naik bus, dan tap kartu ke mesin tap, bunyinya 2x bip… Sementara kartunya suami 1x bunyi.

Yang harus dilakukan kalo naik bus/kereta/ferri adalah tap on saat naik dan tap off saat turun. Kalau lupa salah satunya, akan kena denda. Saya pernah, didenda $4,85, itu seharga 3 zona. Otak kalkulatornya ngitung… Hampir 50rb, huhu… Besok2 ga lupa lagi.

Ini gambar mesin tap off di pintu tengah bus. Mesin tap on adanya cuma di depan, tapi kalau turun bisa tap di depan maupun di pintu tengah bus.

Di sekitar kursi, ada tombol merah bertuliskan ‘stop’. Tombol ini ditekan kalau kita ingin berhenti di halte berikutnya. Nggak usah nunggu deket halte, karena nanti malah lupa ato kelewat. Pokoknya pencet menjelang halte di mana kita mau turun. Bus nggak berhenti di halte yang nggak ada calon penumpangnya, jadi kalo nggak pencet stop dan kebetulan di halte yg kita tuju nggak ada penumpang mau naik, bus nggak akan berhenti.

Awal datang di sini, denger info kalo angkutan umum di sini gak rekomen karena sulit diandalkan dan nggak menjangkau bnyk tempat jd tetep mesti jalan. Kenyataannya, saya enjoy banget berkendaraan umum plus jalan kaki. Jadwal yang tertera di google map akurasinya 80 persen, kereta beberapa kali delay, cuma infonya jelas, jadi spare waktu aja paling untuk lebih amannya. Sopirnya ramah2 dan penumpangnya pun mengesankan. Kalo dulu turun dr trans jakarta ucapan terima kasih itu 1-2 aja yang terdengar, di sini semua orang say thank you dan sopir pun membalas, “Have a good day” atau “See you”. Macem yang akrab gitulah, hihi..

Ini penampakan bus dan sebagian sisi dalamnya.

Kira2 itu dulu ya yang bisa diceritain. Mau belajar untuk tes besok pagi.