Smart Mom

be smart, be wise..

Selalu Ada Yang Pertama July 7, 2015

Filed under: Refleksi — smartmom @ 3:23 pm

image

Saya suka jalan, dekat dengan teman-teman yang suka jalan juga. Pekerjaan saya di masa lalu juga mengharuskan saya berjalan dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Tapi ya jalan datar, naik turun sedikit. Paling jauh ya jalan berbukit di Baduy. Karena punya teman-teman yang suka naik gunung, saya pun pernah berharap suatu hari punya kesempatan naik gunung.

Setelah melupakan keinginan itu sejak lama, suatu hari partner hidup saya menyampaikan ide naik gunung untuk peringatan hari ulang tahun perkawinan kami yang ke-10. Saya pun langsung mengiyakan tanpa peduli ke gunung mana kami mau naik. Suami memutuskan untuk naik gunung Lawu, gunung pertama yang didakinya, 21 tahun yang lalu. Kami pun mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Membeli tiket kereta ke Solo sejak April, mengingat tanggal keberangkatan kami sudah masuk liburan sekolah dan menjelang Idul Fitri. Menyadari usia, dan stamina saat ini, kami memutuskan rutin berolah raga, untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan daya tahan serta kekuatan tubuh.

Dengan bantuan diet mayo, kami berhasil mencapai berat badan yang cukup sesuai dengan target pada 3 hari sebelum keberangkatan ke Solo. Total yang berhasil kami capai adalah, suami turun 18 kg, saya turun 10 kg, menjadi 73 dan 52 kg.

30 Juni 2015, waktunya kami memulai perjalanan berdua. Damai kami titipkan pada mbah, orang tua saya. Kami sampai di stasiun Senen pukul 15.40 dan kereta berangkat 16.08. Perjalanan cukup lancar dan kami sampai di stasiun Solojebres 14.42.

image

Kami dijemput Feby, adik sepupu papa Damai dan langsung menuju ke rumahnya. Feby dan Indy, istrinya sungguh banyak membantu kami, terutama untuk akomodasi. Feby membantu kami meminjam peralatan untuk naik gunung seperti tenda, matras, sleeping bag dan kompor. Indy menyiapkan sarapan untuk kami dan Adva kecil yang masih terjaga menjadi hiburan kami pagi itu.

Sekitar jam setengah 7 kami berangkat menuju tempat pendakian. Papa Damai memilih jalur Cemara Kandang, yang belum pernah dilaluinya dan berencana untuk turun lewat Cemara sewu.

Cerita pendakian selegkapnya sudah diceritakan dalam dua bagian oleh papa Damai. Bagian pertama ada di sini.

image

image

image

Saya akan ceritakan apa yang saya rasakan. Saat mendaki, saya luar biasa bersemangat. Kami benar-benar hanya berdua dan akan mencapai puncak berdua. Saya sangat yakin dengan kemampuan fisik saya, pasti akan sampai di puncak sebelum gelap dan akan tetap fit walau kelelahan. Dan benar, kendati lutut sempat sakit, tapi saya masih bisa berjalan dengan ringan. Tidak demikian dengan papa Damai, mungkin karena beban tubuh dan tas bawaannya lebih berat daripada saya, sakit lututnya lebih menyiksa. Saya pun menjadi agak jauh di depannya setelah pos 3. Tujuan saya, ingin segera menemukan pos dan memberinya kabar gembira. Pun saya tidak perlu mengambil gambar dan video jadi bisa jalan lebih cepat.
image

Ini adalah kali pertama saya naik gunung dan setelah pos 5 menuju puncak, saya ingat film 5 cm, dimana di gambarkan jalan menuju puncak Semeru yang begitu tajam sudut kemiringannya. Dengan bayangan itu saya melewati tanjakan berbatu di bawah tugu puncak Hargo Dumilah. Boleh dibilang saya setengah merayap. Bersyukur saya pakai sarung tangan yang sangat menolong saat melalui tanjakan curam berbatu yang mudah sekali runtuh. Kalau tidak hati-hati saya bisa tergelincir atau batu bisa meluncur ke bawah dan mengenai papa Damai.
Saat melihat puncak di depan mata saya, Papa Damai masih sekitar 6-7 meter di bawah. Saya pun menyampaikan kabar gembira sambil menyemangatinya, “Semangat, Papa… tugunya di sini!” Papa Damai pun melupakan sakit lututnya dan semakin bersemangat sampai ke puncak.

image

Begitulah, kami sampai di puncak menjelang jam 17, saat matahari masih bersinar. Suhu saat itu 15 derajat celcius, dan awan yang berhembus ke arah kami, membuat wajah terasa membeku. Tak bisa kami bayangkan bagaimana dinginnya di tengah malam. Kami pun memutuskan turun dan mencari tempat yang lebih di bawah untuk bermalam. Sebelum turun, papa Damai memimpin doa ucap syukur dan mohon perlindungan Yang Maha kuasa untuk perjalanan kami selajutnya.

Kisah perjalanan turun, diceritakan papa Damai di sini

Rasa lelah, takut, khawatir mewarnai perjalanan turun kami di malam itu, dan kami ternyata tersesat. Untunglah kami tahu pasti bahwa kami tersesat setelah keesokan harinya. Bisa dibayangkan perasaan saya kalau malam itu kami sudah tahu bahwa kami tersesat.

Kontribusi kesalahan kostum terhadap perasaan campur aduk saya sangat besar. Sebenarnya saya tahu, sepatu lari saya tak layak untuk mendaki gunung, tapi sungguh tak terbayangkan bahwa sepatu yang sangat enak saat mendaki menjadi sangat menyakitkan untuk kaki kaki saya ketika turun. Terlebih dengan jalan menurun yang curam tanpa henti.

Saya pun mengorbankan sepatu saya dengan menginjak bagian belakangnya. Lumayan, bagian belakang kaki tidak sakit lagi, saya hanya perlu menahan sakit jari-jari kaki saya.

image

Pos 1, saat turun melewati jalur Candi Cetho

Dalam perjalanan turun yang mencekam saya bertanya-tanya, apakah saya akan menyesali perjalanan ini atau tidak. Saat ini tentu saja saya akan katakan tidak. Sungguh segala kesulitan yang kami hadapi membuat kami jadi lebih berserah dan bersyukur.

Semoga menjadi bekal kami mengarungi kehidupan pernikahan kami sampai akhir hayat.

“We can make it. . . however long and hard the road.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s