Smart Mom

be smart, be wise..

Ujian Praktik: Demam Berdarah Dengue May 22, 2016

Filed under: healthy,keluarga,Refleksi — smartmom @ 4:33 am

Saya baru saja melewati ujian praktek, materinya soal demam, khususnya demam berdarah dengue (DBD). Saya coba cerita ya… tapi karena panjang, mungkin akan terasa sekali kalau saya berusaha menyingkat-nyingkat.

Sejak siap-siap jadi ibu, tahun 2005 saya belajar pelan-pelan hal-hal yang perlu diketahui seorang ibu. ASI, makan bayi, perawatan bayi termasuk penyakit langganan anak. Beruntung nemu komunitas yang suportif dan rasional, milis SEHAT. Bukan cuma soal bayi baru lahir dan ASI, makanan bayi, perawatan bayi, tapi juga penyakit-penyakit langganan anak. Seiring proses belajar ada ujian-ujian yang harus dihadapi, misalnya waktu payudara lecet, Damai malas menyusu, demam, batuk pilek, diare dan muntah. Bekal pelajaran yang saya dapat dari hari ke hari karena diskusi dan membaca sepertinya terlengkapi dengan ujian-ujian yang saya hadapi. Bersyukur, walau saya menilai diri tidak dapat nilai yang cukup oke, tapi bekal pelajarannya sangat berguna.

Minggu yang lalu, saya dapat ujian lagi. Menurut saya ini lebih susah daripada ujian-ujian sebelumnya. Suami demam sejak hari senin pagi tanggal 15 Mei, yang terus bertahan di suhu 39 ke atas selama 2 hari. Tanda batuk pilek tidak nampak. Saya terus observasi sambil memikirkan apa saja kemungkinannya. Saya tanya soal sakit perut, mual, menggigil, linu-linu, sakit kepala hebat sampai mata serasa mau keluar. Saya coba identifikasi. Ini yang dirasa papanya Damai:
-demam
-sakit kepala hebat, kepala betat, bola mata sakit
-menggigil seluruh tubuh
-mual.

Tidak ada sakit perut, saya mencoba memikirkan kemungkinan demam dengue. Hari Rabu, papa Damai memaksa masuk kantor setengah hari dalam keadaan lemah karena ada kelas yang tidak bisa ditinggal. Saya perbolehkan dengan berat hati dan kami memutuskan untuk tes ns1 untuk memperjelas infeksinya.

Jam 12 siang papanya Damai telpon menyampaikan bahwa kelas siang dibatalkan dan kami janjian ketemu di lab. Kondisi fisik sudah sangat payah dan sempoyongan. Diantar mobil kantor, papanya Damai sampai dengan aman di lab Life, Alam Sutra.
image

Trombosit sudah di bawah 100 ribu, lainnya masih di range normal. Saya diskusi dengan papa Damai, mau pulang atau ke rumah sakit. Kondisi trombosit yang di bawah 100 ribu membuat saya khawatir terlebih kondisi fisiknya yang sudah sangat lemah. Saya putuskan untuk ke rumah sakit. Saya harus bertanya dulu ke teman lho, kalau sampai rumah sakit saya harus ke mana. Ya, ini pertama kalinya saya berurusan dengan rumah sakit. Apa yang ada di pikiran saya saat itu selain biaya rumah sakit? Saya khawatir harus berhadapan dengan dokter, apakah saya bisa tetap rasional, apakah saya sanggup berdiskusi dengan dokter tanpa merasa kerdil atau justru sok tahu. Ah, urusan nantilah… saya hadapi dulu aja.

Sampai rumah sakit saya menuju IGD, diminta mendaftar dulu lalu balik lagi ke IGD. Dari IGD ke loket pendaftaran rawat inap, kasir rawat inap baru kembali lagi ke IGD untuk mendapatkan tindakan sebelum masuk kamar. Papa Damai yang lemah tak berdaya itu ikut saya mondar mandir, dan saya sesali kemudian,kenapa tidak saya minta duduk menunggu saja di kursi tunggu.

Singkatnya, kami dapat kamar, kelas 2, berisi 3 bed. Ketika kami datang ada 1 pasien yang akan pulnag keesokan harinya.
Infus sudah dipasang saat di IGD. Setelah urusan kamar beres, saya tinggal papa Damai untuk pulang mengambil perlengkapan yang diperlukan untuk menginap. Saya pulang ke rumah bapak, ketemu Damai dan bilang bahwa papa mama akan tinggal di rumah sakit selama beberapa hari. Dari rumah bapak saya ke rumah Celesta mengambil pakaian dll, llau segera kembali ke RS.

Malam pertama di RS, saya tidur sambil duduk di kursi, di sisi tempat tidur, seperti di drama2 yang biasa saya tonton. Masih belum percaya saat itu, saya harus bermalam di rumah sakit. Dua malam saya tidur semacam itu, karena awalnya berpikir hanya sebentar di RS jadi saya tidak menyiapkan tikar dan alas tidur lain. Hari ketiga saya baru realistis, pulang mengambil bed cover, pinjam tikar sama mbah dan menyamankan posisi tidur saya. Yah, kalau tidurnya sih tidak mungkin nyaman karena setiap saat harus bangun memberi minum atau mengambil pispot.

Hari kedua di RS(balik ke cerita sakitnya ya..), trombosit turun menjadi 47 ribu.
image

Saya mungkin jadi penunggu pasien yang paling cerewet sebangsal karena 1-2 jam setelah ambil darah sudah mulai tanya ke perawat soal hasilnya. Bukan cima trombosit tapi juga hematokrit. Kadang saya foto layar komputer yang menampilkna hasil tes darah papa Damai atau minta copy hasil tes darah (1 lembar carbonized memang hak pasien) Saya merasa perlu segera tahu perkembangannya. Teman-teman baik saya mengirimkan guideline untuk saya baca supaya punya bekal. Saat itu papa Damai makin sulit minum karena mual, hanya teh manis yang bisa masuk. Apa saja, saya pikir, yang penting banyak cairan masuk. Untungnya hari ketiga di RS sudah lebih enak minum air putih. Makan belum selera, mual katanya.

image

Jumat, hari ketiga si RS, badan sudah tidak menggigil, suhu tubuh normal, tekanan darah normal, tapii….. trombosit anjlok ke 19ribu. Jadi dari 96ribu di hari rabu, kamis pagi 47 ribu, kamis malam 26ribu, jumat pagi 19ribu dan Jumat siang 12 ribu.
Saya tahu bahwa trombosit akan terus turun dan mulai naik pada hari ketujuh demam. Hati menggalau ketika turun menjadi 19 ribu pada hari kelima dan makin jadi galaunya ketika menjadi 12 ribu.

Sekitar jam 3 sore perawat datang membawa form pemesanan trombosit. Saya segera ke lantai 1 untuk ke bagian pendaftaran. Sebelum masuk ruangan saya duduk sejenak lalu browsing dan berpikir. Apakah klausul untuk transfusi terpenuhi, apakah saya melakukan hal yang benar, dll. Saya pun minta perhitungan biaya, yang akhirnya menjawab keraguan saya biayanya cukup mahal. Satu kantong trombosit harganya Rp 550.000, sementara kami butuh 8 kantong. Itu belum termasuk biaya ambulance Rp 485.000. Karena kami membiayai sendiri semua, saya minta waktu berpikir. Pihak RS menyarankan kami memesan trombosit karena khawatir trombosit akan makin turun dan nantinya akan saat butuh transfusi, trombosit tidak tersedia. Saya bilang ke perawat kalau kami mau menunggu cek darah satu kali lagi untuk memutuskan. Suami saya tercinta tampak tenang saja, sementara istrinya sudah galau setengah mati karena takut salah ambil keputusan. Saya butuh bantuan untuk terus menjaga kepala saya tetap berpikir lurus, dan teman-teman saya sedia setiap saat untuk dicolek. Saya terharu…. mlipir dari kamar buat ngeluarin air mata. Jadi saya pikir-pikir yang bikin nangis ini temen-temen saya, hahaha…

Menunggu 8 jam untuk cek darah berikutnya dan 2 jam lagi untuk hasilnya itu rasanya lama sekali. Dan ketika hasilnya saya ketahui trombosit naik menjadi 13 ribu, saya bahagia luar biasa. Biar deh mepet, tapi naik. Seperti naik kelas tapi nilainya pas-pasan =)) Naik trombosit di hari kelima sungguh di luar dugaan.

Hematokrit masih tinggi sampai hari berikutnya. Trombosit merayap, ke 22 ribu, 22 ribu lagi lalu 32 ribu. Saya gemas, minum sudah banyak tapi kok naiknya bikin saya tidak sabar. Saat dokter visit di hari minggu, saya bertanya apa boleh pulang (trombosit 32 ribu), dokter bilang tunggu 80 ribu. Waduh, jauh sekali perlu naiknya ya. Kebut minum lagi dan terus berdoa. Saya telpon Damai, minta bantuan doa khusus. Entah kenapa, selalu merasa doa Damai itu super tulus, alias saya ngaku, kalo doa sering demanding walau ngakunya berserah. Oiya, saya minta dokter menghentikan suntikan obat lambung ke infus karena sudah tidak ada rasa mual. Dokter setuju. Parasetamol sudah dihentikan sejak hari kamis. Ya, obat-obat yang tidak diperlukan, kalau tetap diberikan namanya over treatment dan itu tidak rasional. Saat itu papa sudah sedikit-sedikit turun dari tempat tidur. Lengan kanannya bengkak karena posisinya selalu diam dan tertahan karena ada jarum infus.

image

Senin pagi, doa terkabul, suster datang tersenyum ceria, wah bisa pulang bu, sudah 80 ribu, tapi nanti ya tunggu dokter visit dulu. Wow… di luar perkiraan, kami senang sekali. Yang tadinya saya mengurangi isi lemari untuk dibawa pulang mbah, berganti menjadi packing pakaian dll untuk pulang. Sebelum jam 12 kami sudah check out dari kamar 415 di RS Sari Asih Ciledug.

Ada hal penting yang terlewat oleh saya, yaitu balans cairan. Saya tidak ingat sama sekali untuk memperhatikan ini, padahal penting bagi pasien DBD. Balans cairan ini adalah perhitungan cairan masuk dan keluar tubuh. Data dibuat setiap hari lalu dianalisis. Ini penting untuk menentukan seberapa banyak infus diberikan dalam 24 jam. Untuk keperluan data balans cairan, saya mencatat volume urin , jumlah air minum yang dikonsumsi dalam 24 jam. Saya baru meminta pada perawat saat malam minggu dan karena itu mereka baru mulai menghitung. Dengan data balans cairan kita bisa tahu berapa banyak harus ngejar cairan masuk.

Saya bersyukur bisa melewati ujian praktek ini. Demam itu tanda adanya infeksi. Belajar pola demam akan sangat membantu membuat kita tidak panik. Tentu belajarnya bukan saat sakit ya. Kalau tidak panik, keputusan-keputusan bisa diambil dengan kepala jernih. Lega bisa kembali ke rumah lebih cepat dari perkiraan. Terima kasih papa sudah bekerja keras dan terus semangat untuk sembuh, sehingga hari kelima trombosit sudah mulai naik. Pengalaman ini sungguh berharga.
Terima kasih teman-teman untuk support dalam segala bentuk dan doa-doa yang dipanjatkan untuk kesembuhan papa Damai.

Sehat semua ya…

image

Baca soal dengue di sini

 

One Response to “Ujian Praktik: Demam Berdarah Dengue”

  1. Alhamdulillah…pak Freddy udah sehat lagi ya, sil…
    Itu persis kayak aku kemarin… mentok di 12rb trus baru naik deh
    Sehat-sehat terus ya, pak Freddy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s