Cerita Dapur Kenari (II)

January 22, 2010

Saya terus belajar dan mencoba. Bermain dengan buttercream saya lakukan pertama di tanggal 18 Januari 2006, membuat kue ulang tahun untuk bapak (saya belum menemukan foto kue bapak –menyusul).

Setiap kali mencoba resep baru, saya bawa ke kantor untuk teman-teman. Sebagian saya jual dengan harga yang murah. Saat itu saya hanya berpikir, modal latihan saya sedikit kembali. Selain menjual brownis kukus dalam cup, saya juga menjual coklat stik dan brownis panggang di kantor. Hasilnya, lumayan. Walau tidak untung besar, tapi bisa mengganti uang telur, tepung dan bahan lainnya.

Selain itu, saya juga menulis dan menampilkan gambar hasil percobaan saya di blog. Demikian pula dengan hasil karya saya untuk ulang tahun anak saya yang pertama. Cake 3 dimensi bentuk kelinci dan minicake bergambar Damai. Saat itu, entah dapat keberanian darimana, saya sudah punya label sederhana yang dibuatkan dengan harga murah oleh teman lama.

Pilihan nama Dapur Kenari datang tidak sengaja. Saat saya memotong kenari untuk brownis panggang, saya dan suami sambil mencari ide, dan setelah memilih beberapa kata, kami putuskan menggunakan Dapur Kenari.

Melihat label Dapur Kenari di kemasan minicake untuk ulang tahun Damai, beberapa orang mulai bertanya, apa bisa pesan. Dengan kenekatan luar biasa, saya bilang ya. Tak lupa saya katakan kalau memang saya belum pernah membuat seperti yang diminta. Saya mencoba jujur dengan kemampuan saya sendiri. Dan kue ulang tahun  berbayar pertama  saya adalah kue untuk ulang tahun Haura yang kedua. Waktu itu, Nana, mamanya memesan kue berhiaskan tema princess. Saya sangat bahagia waktu Nana dan Haura senang dengan kuenya. Sejak pesanan pertama itu, pesanan berikutnya pun mengalir. Seiring banyaknya pesanan, saya pun makin banyak belajar dan meningkatkan kemampuan.

Saya beruntung, mengenal Nining di multiply, yang ternyata sangat pandai soal kue dan masakan. Saya pun beberapa kali belajar ke rumahnya. Makin banyak foto kue yang saya pajang di blog, makin banyak pula pesanan yang datang. Dan tanpa terasa, penghasilan Dapur Kenari telahmemberi kontribusi besar  pada kelangsungan hidup rumah tangga saya .

Saat memutuskan berhenti dari pekerjaan di kantor, saya tidak takut karena saya punya Dapur Kenari yang bisa saya jadikan sandaran hidup. Dan saya bersyukur, saya memiliki pilihan.

Kini, walau saya masih mengerjakansemua sendiri, tapi saya bisa lebih maksimal mengerjakan setiap order. Terima kasih untuk kepercayaan teman-teman semua. Saya selalu mengupayakan yang terbaik.


Cerita Dapur Kenari (I)

January 22, 2010

Kali ini saya ingin  berbagi soal usaha kecil saya, Dapur Kenari.  Beberapa teman saya di multiply mungkin mengikuti bagaimana awal mulanya saya memiliki dapur kecil saya ini.

Saat anak saya berusia 6 bulan, saya memulai pengenalan makanan pendamping ASI. Saya menyiapkan sendiri semua makanan untuk anak saya. Saya rela bangun lebih pagi tapi berangkat lebih siang dari suami saya, demi bisa menyuapi anaka saya di pagi hari.

Seluruh makanan saya siapkan di kotak-kotak terpisah lalu saya masukkan  ke dalam lemari es. Selebihnya saya mengikuti panduan WHO yang juga telah saya tuliskan terdahulu.

Di masa-masa  itu, saya bergaul dengan banyak blog yang sungguh menginspirasi, bagaimana para ibu menyiapkan bekal untuk anaknya, membuatkan camilan untuk anak dan keluarganya. Saat itu, saya bermimpi bisa melakukan hal yang sama untuk anak dan suami saya. Tapis aya tak tahu bagaimana mulainya. Saya tak punya pengalaman membuat kue-kue atau camilan bersama ibu saya. Yang sama miliki hanya pengalaman membantu ibu memasak.

Akhir tahun 2006, saya bergabung dengan mailing list kuline Natural Cooking Club. Saat itu, kebetulan beberapa teman telahbergabung lebih dulu. Saya, yang pernah membaca soal NCC di koran, tak pernah berani bergabung karena merasa tak punya kemampuan apa-apa.  Tapi akhirnya saya pikir, coba saja, kalau tak bisa mengikuti saya keluar.

Ternyata, saya tak sendiri. banyak orang-orang baru yang pertanyaannya masih sangat dasar. Saya pun menjadi percaya diri, terlebih setelahberkunjung ke beberapa blog para member yang juga pemula dalam hal membuat kue.

Kebetulan, saat itu pekerjaan di kantor sangat sedikit, bahkan saya nyaris tidak punya pekerjaan. Sebagai penebusan rasa bersalah pada anak saya yang setiap hari saya pamiti untuk bekerja, saya memutuskan untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk belajar.

Saya pun makin banyak berjalan-jalan ke rumah maya teman-teman, menjalin pertemanan baru,mencatat resep, mengajak diskusi dan lain-lain. Ketidak pedean saya karena tidak punya oven teratasi saat saya lihat seorang Dewi Joris bisa berjualan hanya bermodalkan dandang pengukus. Saat itu saya tidak terpikir untuk berjualan, hanya berpikir membuat penganan untuk keluarga saya.

Bapak saya yang baik hati, mendapat lungsuran mikser dari seorang kliennya. Diperbaiki lalu diberikan kepada saya. Mikser yang sangat tua dan suaranya bising sekali.

Mengingat pengalaman kelas memasak di SMA dulu, di bawah bimbingan Ibu Joko yang waktu itu rasanya galaaak sekali (trima kasih ibu, pengalaman bersama ibu telah membuat saya percaya diri), saya berkata pada diri sendiri bahwa kalau dulu saya  bisa (walau berkelompok) sekarang saya juga pasti bisa.

Tanggal 7 Januari 2007 adalah saat bersejarah untuk saya. Pertama kalinya saya membuat adonan kue sendiri dengan mikser. Saya membuat brownis kukus dengan resep dari NCC. Saya tak tahu bagaimana adonan yang kental, semua serba kira-kira. Setelah dag dig dug selama beberapa menit saat mengukus, jadilah si brownis kukus. Suami saya memotongnya lalu mencicipi dan satu ciuman hangat didaratkan ke pipi saya, “Selamat ya ma…”

Saya pun tersipu, bangga sekali dan itulah kue terenak yang pernah saya rasakan selama hidup saya saat itu.

Setelah hari itu, setiap akhir pekan saya mencoba satu resep baru. Teman-teman baru saya pun bertambah. Salah satunya adalah Iin yang juga mencoba resep baru di akhir pekan. Senang rasanya punya teman senasib yang sedang sama-sama belajar.

Target saya setelah itu adalah membuat sendiri kue ulang tahun untuk  bidadari kami, Damai, dan ulang tahun kerabat setelah januari itu menjadi ajang latihan.


Hari yang Panjang

January 21, 2010

Pernah tidak Anda merasa suatu hari itu panjang sekali, seakan waktu berjalan lambat? Saya mengalaminya kemarin dan hari ini, bahkan besok mungkin masih demikian. Sebabnya satu, suami saya sedang ada kegiatan yang membuatnya harus pergi sangat pagi dan pulang sangat malam.

Komunikasi  bisa tetap berjalan, tapi entah kenapa, rasanya saat ini saya ingin dia ada di samping saya. Terlalu melankolis ya? Biarlah… hati kami berdua memang sedang kasmaran. Kami sedang menikmati kembali cinta hebat itu, yang dulu kami berdua bangun dari puing-puing runtuh dan telah melekat kuat menjadi mozaik yang indah. Gempuran palu berkali-kali mungkin meretakkan tapi tak akan mampu meruntuhkan kembali bangunan cinta kami.

Puji Tuhan, saya bisa mensyukuri semua, bahwa gempuran-gempuran palu tersebut justru akan membuat mozaik cinta kami menjadi semakin indah dan saling kuat melekat dan menguatkan satu sama lain.

Selamat menikmati keindahan dan kebahagian di hari ini!


Menyimpan Masakan Matang

January 20, 2010

Saat order kue sedang banyak, saya sering tidak sempat membuatkan bekal untuk suami saya, bahkan sarapan pun seadanya. Semua memang saya lakukan sendiri, tanpa asisten, jadi kalau tidak benar-benar cermat, jadwal saya seharian bisa menjadi berantakan.

Belakangan saya menemukan cara yang sangat membantu menghemat tenaga dan waktu saya. Cara tersebut adalah, memasak makanan hingga matang dan menyimpannya menjadi beberapa bagian sesuai kebutuhan.

Hal ini berlaku  untuk nasi dan lauk. Untuk sayur, tetap saya upayakan segar, atau minimal sayur potong beku yang saya rebus (muncul biat membekukan sayuran sendiri, tapi belum sempat terlaksana. Nanti kalau sudah akan saya ceritakan hasilnya)

Lauk yang biasa saya masak dalam jumlah banyak adalah: ayam, tahu, tempe ungkep (tanpa santan). Setelah matang, saya pisahkan menjadi beberapa bagian diwadah bertutup rapat, lalu dimasukkan lemari es. Bila akan dipakai lebih dari 2 hari bisa juga dimasukkan dalam freezer.

Saat menghidangkan, saya hanyua perlu memanaskannya di wajan anti lengket. Demikian juga dengan nasi . Cara lain adalah dengan dikukus, tapi saya jarang melakukannya karea dengan wajan antilengket jauh lebih cepaqt dan praktis.

Selebihnya, saya hanya perlu merebus sayuran ( bisa dipotong-potong malam sebelumnya). Cara ini  sangat membantu saya dalam keterbatasan. Kandungan gizi mungkin sedikit berkurang  (sedapat mungkin dipertahankan dengan tidak terlalu lama memanaskan), namun saya senang karena bisa menyiapkan makanan dengan cara yang praktis.


Ucapan Syukur Pagi

January 19, 2010

Pagi ini saya bangun dengan kesegaran yang baru, hati yang baru. Ucap syukur saya angkat ke hadapanMU ya Tuhan, atas segala karunia untuk kami sekeluarga.

Hari ini, masih seperti beberapa hari terakhir, jadwal saya adalah mengerjakan order kue ulang tahun. Mengingat cuaca sedang banyak hujan dan saya khawatir mati listrik, maka saya upayakan kue selesai dipanggang sebelum malam. Maksudnya, supaya malam tinggal menghias dan tidak perlu menyalakan mikser. Tidak bisa dibayangkan kalau masih harus membuat adonan dan listrik mati seperti beberapa hari yang lalu. Untunglah waktu itu masih siang hari, sehingga saya masih punya waktu menunggu listrik menyala di sore hari. Saya tidak bisa bayangkan bila saya tunda mengocok adonan hingga malam dan di malam hari listrik mati. Puji Tuhan,selama ini saya sangat beruntung.

Pekerjaan saya di rumah memang fleksibel, bisa saya atur sendiri waktunya. Puji Tuhan, bidadari kecil kami adalah anak yangsangat pengertian. Bila terpaksa waktu mainnya bersama saya teredusir karena saya harus bekerja, dengan penjelasan yang baik,ia bisa memahaminya.

Di tahun 2010, ini saya sedapat mungkin tidur lebih awal, sebelum tengah malam. Jadi pekerjaan saya lakukan sejak siang agar tak perlu bekerja hingga pagi atau dini hari. Saya ingin hidup kami lebih sehat dan setiap pagi bangun dengan segar, membuatkan sarapan dan bekal untuk suami tercinta agar ia tidak merasa bersalah karena harus makan di luar.

Syukur pada Tuhan…atas segala berkat bagi keluarga kami, atas segala kasih yang Engkau wujudkan dalam berbagai bentuk untuk kami. Biarlah hari ini kami menjadi berkat  bagi orang-orang yang kami temui. Biar hanya cinta yang hadir diantara kami semua…Biar segala kebencian pergi jauh terbawa arus hingga tak lagi bisa kembali. Amin.


Tahu dan Tempe Bakar

January 11, 2010

Saya penggemar tempe goreng karena gurih dan kriuk yang begitu menggoda, tapi tentu tak terlalu baik untuk kesehatan, apalagi bila minyak yang dipakai adalah minyak goreng biasa.

Bila Anda sedang berupaya mengurangi pemakaian minyak goreng di rumah atau sedang berusaha mengurangi asupan minyak goreng dalam tubuh seperti saya, mungkin bisa coba cara saya berikut ini.

1. rebus tahu dan tempe (potong-potong, jangan terlalu tebal) bersama bumbu sesuai selera anda. Kalau saya: sedikit garam, banyak bawang putih dan ketumbar tumbuk/bubuk.
2. Siapkan wajan anti lengket/teflon, pasang api kecil.
3.Letakkan hati2 tempe/tahu yang sudah matang… biarkan matang dan mengering…bolak balik agar tidak gosong.

Ini salah satu menu hari minggu kemarin, dan ludes oleh suami dan anak…saya kebagian sepotong tahu saja, padahal yang dimasak 8 potong tempe dan 10 potong tahu :) Makan dengan sambal,nasi hangat, dan sayuran rebus, luar biasa lezat rasanya!


Selamat Natal 2009

December 25, 2009

Selamat Natal 2009 untuk Anda yang merayakan Natal. Semoga hati kita semua dipenuhi dengan kedamaian.


Mudik Natal 2009

December 25, 2009

Natal tahun ini, seperti Natal-natal lainnya, keluarga kami mudik ke Gunungkidul, daerah asal suami saya. Meski sudah dijadwalkan jauh-jauh hari, tapi tetap saja rasanya terburu-buru ketika berangkat, karena suami saya masih masuk kerja kemarin pagi dan hutang-hutang pekerjaan saya cukup banyak.

Saya hendak cerita soal bekal yang tidak lagi terlalu repot jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya karena Damai sudah lebih besar, tapi juga karena kami agak terburu-buru.

Jika tahun-tahun sebelumnya saya selalu menyiapkan aneka bekal untuk di perjalanan maupun selama kami tinggal di tempat mbah buyutnya Damai, kali ini saya hanya membawa bekal: roti, air putih, keju dan havermut mentah (saya pikir saya bawa, ternyata ketinggalan).

Setelah beberapa kali kami mudik, kami menjadi terbiasa dan dengan mudah mengatur strategi untuk tetap makan yang lumayan sehat, setidaknya untuk mengimbangi makanan-makanan di sini yang luar biasa menggiurkan (dan yang menggiurkan biasanya tidak terlalu sehat). Favorit saya adalah jangan lombok (tempe yang dimasak pedas dengan banyak cabai dan santan kental). Damai tentu tak bisa makan ini, selain karena bersantan (yang biasanya membuatnya banyak bertanya dan ujung-ujungnya bisa menolak) tapi juga terlalu pedas.

Yang bisa kami lakukan sangat sederhana, yaitu: merebus sayuran,makan buah dan minum air putih lebih banyak. Karena Damai sudah makan hampir semua masakan yang disediakan (kecuali yang pedas)saya tak perlu memasak makanan khusus, dan hanya perlu merebus sayuran bila menu yang ada belum ada sayuran. Hal ini akan mempertahankan taste-nya lidah Damai dan saya tidak akan kesulitan mengembalikan ke kebiasaan di rumah yang masakannya cenderung tawar. Saya juga tidak terlalu merasa bersalah karena makan bersantan, gorengan dan banyak makanan manis. Sayur dan buah yang cukup banyak ada di sini, saya harap bisa menyeimbangkan (mungkin kenyataannya tetap tak dapat mengimbangi, karena jenis makanan yang luar biasa banyak dan sungguh menggiurkan).

Kami mungkin tetap kembali ke Tangerang dalam keadaan lebih berat, lebih gemuk, kolesterol dan tensi lebih tinggi namun setidaknya keadaan yang demikian akan memantapkan resolusi sehat kami di tahun 2010. Walau masih sama dengan resolusi tahun lalu, saya tetap optimis dan bersemangat, setidaknya tidak pernah berhenti berusaha. Anda bagaimana? Mau tetap berusaha bersama saya? Oya, selamat untuk anda yang berhasil di tahun 2010 dengan resolusi sehatnya ya…


Sup Ayam Cinta

December 3, 2009

Hari ini, Damai, bidadariku sedang demam, lumayan tinggi, sampai 39,9 derajat C. Papanya juga sedang tidak terlalu sehat. Perutnya bagian kanan perih katanya, saya belum menemukan sebabnya, masih observasi.  Damai juga, belum ada tanda-tanda batuk atau pilek, masih observasi dan menunggu.

Saat kedua cintaku tidak sehat seperti ini, saya berusaha membuat makanan yang menggugah selera.  Jadi, hari ini menunya sup ayam jagung dan tahu kukus.

Ini resep supnya:

Bahan:

Beberapa potong ayam (plus ceker kesukaan Damai) direbus sampai empuk. Saya selalu membuang airnya beberapa kali untukmengurangi lemaknya. Setelah empuk, ayam disuwir atau potong dadu kecil

1 buah jagung manis, seset

3 batang wortel, potong dadu kecil

2 batang daun bawang

2 lembar daun jeruk

1 buah tomat, potong dadu

garam, merica, pala secukupnya

3 siung bawang putih, memarkan

1 buah bombay, cincang

Cara membuat:

masukkan bawang putih, bombay,  jagung dan ayam suwir ke dalam air rebusan ayam, masak sampai matang

masukkan tomat, wortel, daun bawang

masukkan bumbu-bumbu lainnya

Buat dengan senang hati dan penuh cinta, hasilnya akan jadi lezat dan mengundang selera seluruh anggota keluarga.

Sup sederhana ini sukses membuat Damai yang demam tinggi tetap mau makan dengan lahap sampai sore ini. Puji Tuhan..

Masih sisa sedikit untuk papa Damai yang belum sampai di rumah.

Jaga kesehatan yaa!


Yang Terlewat

December 1, 2009

Sudah lebih dari 3 bulan saya bekerja di rumah dan rasanya makin terbengkalailah blog ini. Sulit yah  ternyata membagi waktu dengan segala pekerjaan di rumah. Untunglah semua tidak mengurangi kegembiraan saya karena bekerja di dekat anak saya.

Satu hal yang agak menyedihkan adalah pola makan sehat yang mulai terbengkalai, karena kadang saya kesulitan menyediakan waktu memasak (yang sebenarnya sangat sederhana) dan lidah saya yang selama satu tahun terakhir terlena dengan katering kantor tiap siang hari, seringkali terbawa ke rumah.

Makanan pokok kami tetap nasi merah utuh,namun yang dulunya saya hampir tak pernah masak lauk yang digoreng, belakangan menjadi sering karena lauk bisa matang jauh lebih cepat. Lidah saya yang masih teracuni kebiasaan makan di kantor kadang ingin masakan yang gurih dan agak berminyak. Wah, rasanya ‘kotor’ sekali  masakan saya.

Untunglah satu minggu terakhir saya bisa memulainya lagi, melakukan yang terbaik untuk keluarga. Suami saya  kembali membawa bekal sehat ke kantor dan isi lemari es saya usahakan selalu isi ulang dengan sayur mayur dan buah lebih banyak dari biasa.

Bagaimana rasanya memulai lagi? Untuk saya tidak terlalu berat, karena saya dan Damai masih makan makanan rumah setiap hari. Tidak demikian bagi suami saya, yang sejak saya tidak sempat lagi membuatkan bekal makan siangnya, harus membeli makan siang setiap hari, dan lebih sering sulit memilih makanan yang cukup sehat.

Kami berusaha menjaga pola ini agar tetap menjadi pola makan kami sekeluarga. Satu hal yang sangat saya syukuri, Damai masih dengan pola makan yang sama. Walau sempat teracuni gaya makan saya, tidak sulit untuk Damai kembali ke pola yang jauh lebih sehat.

Mudah-mudahan niat baik ini berjalan lancar bersamaan dengan upaya saya menjaga ritme blog ini :)